ILMU DAN KEBUDAYAAN

ILMU DAN KEBUDAYAAN
BAB I
ISI BIOGRAFI JUDUL
Sebelum penulis menyampaikan pokok-pokok pikiran dalam rangka membuat analisi kritis dari sebuah bab, maka penulis ingin menyampaikan tentang isi biografi dari judul yang penulis teliti.Dari judul yang penulis pilih, ”Ilmu dan Kebudayaan”, penulis ingin sedikit memaparkan apa itu ilmu dan apa itu kebudyaan. Makna konotatif ilmu adalah serangkaian aktivitas manusia bertujuan dan berhubungan dengan kesadaran kognitif (The Liang Gie). Konotasi ilmu menyangkut tiga hal yaitu : proses, prosedur, dan produk. Sementara tentang kebudyaan didefinisikan untuk pertama kali oleh E . B. Taylor tahun 1871, dimana kebudaaan diartikan sebagai keseluruhan yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat serta kemampuan dan kebiasaan lainya yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Ada pula yang memandang kebuayaan dari tiga hal saja yaitu 1. Kebudayaan = kesenian, 2. Hasil cipta rasa dan karsa manusia 3. Sebuah sitem pengetahuan atau gagasan, milik bersama suatu kesatuan sosial, dan berfungsi sebagai blue print bagi sikap dan prilaku anggota kesatuan sosial tersebut.
Dari yang telah diuraiakan di atas penulis akan lebih fokus dalam beberapa pilihan materi yang terdapat dalam bab tersebut agar penulis tidak kehilangan arah penelitian sebagai bentuk pelatihan. Isi dari bab tersebut yang akan penulis sampaikan adalah sebagai berikut : 1. Manusia dan Kebudyaan 2. Kebudyaan dan Pendidikan 3. Ilmu dan pengembangan Kebudayaan Nasional. Dengan batasan yang penulis sajikan semoga lebih bermanfaat bagi penulis kususnya dan bagi perkembangan Ilmu Filsafat pada umumnya.
BAB II
TUJUAN PENELITIAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami Ilmu dan Kebuyaan dan pengaruh-pengaruhnya terhadap kehidupan manusia dalam berbangsa dan bernegara.
BAB III
FAKTA UNIK YANG MENARIK
Manusia dalam hidupnya sangat banyak kebutuhan-kebutuhan yang ingin digapainya.Yang menarik manusia tidak akan pernah bisa memenuhi kebutuhanya tersebut. Mengapa hal ini terjadi ? menurut penulis ini disebabkan beberapa faktor : 1. Manusia apabila kebutuhan satu terpenuhi maka akan muncul kebutuhan lain 2. Manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sangat ditentukan oleh faktor budaya sekitarnya. Belum lagi pengaruh keinginan yang merupak karakter dasar bagi manusia. Keinginan sungguh tiada batas. Maslow dalam Jujun S. Suriasumantri (2001 : 262) mengidentifikan
lima kelompok kebutuhan manusia yakni kebutuhan fisiologi, rasa aman, afilasi, rasa aman, harga diri dan pengembangan potensi. Sementara pada binatang hanya ada dua kebutuhan yakni kebutuhan fisiologis dan rasa aman.
Kenyataan di masyarakat menggambarkan nilai-nilai budaya yang disampaiakan lewat proses pendidikan bukan nilai-nilai budaya yang diperlukan oleh anak didik kita. Ini terjadi karena pengaruh budaya yang sedemikian cepat dan dapat diperoleh dengan mudah melalui media cetak, eloktonik, TV, Internet. Terjadi perbedaan yang mencolok antara masyarakat tradisional dan masyarakat modern, dimana pada masyarakat tradisional status sosial masih jadi hal yang prinsip dalam pengambilan keputusan berdasarkan filing dan pengetahuan sebulumnya tanpa anlisis yang valid, sementara pada masyarakat modern status sosial tidak lagi dipersoalkan pengambilan keputusan berdasarkan analisis yang kuat dan teknologi landasan utamanya.

BAB IV
PERTANYAAN YANG MUNCUL
Upaya-uapaya apa yang dapat dilakukan oleh pemerintah, masyarakat, praktisi pendidikan, dan pendidik dalam usaha menyeimbangkan antara budaya, kebudayaan, budaya dan pendidikan, pengaruh budaya terhadap perkembangan pendidikan anak bangsa di masa depan ?
BAB V
KONSEP UTAMA YANG MUNCUL
Kebudayaan diwujudkan dalam bentuk tata hidup yang merupakan kegiatan manusia yang mencerminkan nilai budaya yag dikandungnya. Pada dasarnya tata hidup merupakan pencerminan yang kongkret dari nilai budaya yang bersifat abstrak: kegiatan manusia dapat ditangkap oleh panca indera sedangkan nilai budaya hanya tertangguk oleh budi manusia.
Keseluruhan faset dari kebudayaan tersebut di atas sangat erat hubungannya dengan pendidikan sebab semua materi yang terkandung dalam suatu kebudayaan diperoleh manusia secara sadar melalui proses belajar. Dengan kegiatan belajar inilah diteruskan kebudayaan dari generasi yang satu kepada generasi selanjutnya secara terus menerus silih berganti. Seiring dengan perkembangan Masalah pertama yang dihadapi oleh pendidikan adalah menetapkan nilai-nilai budaya apa saja yang harus dikembangkan dalam diri anak didik kita.
Sudah miliaran rupiah dana yang di hamburkan agar penataran dan pelatihan untuk memantapkan niai kebudayaan dapat terwujud. Salah satunya adalah memantapkan rasa kebangsaan . Disamping itu media massa melalui media cetak dan media elektronik juga menyemangati segenap generasimuda agar memahami arti semangat perjuangan 45.
Semangat perjuangan 45 adalah semangat yang tidak mengenal istilah pantang mundur demi meraih kemerdekaan. Malah nyawa, harta dan keluarga adalah taruhannya. Bagaimanakah semangat generasi kita seputar tahun 2008 ini Tanpa mengadakan penelitian yang akan membuang-buang waktu dan dana, kita dapat mengatakan bahwa rata-rata generasi muda sekarang banyak yang tidak memiliki semangat perjuangan
Bila kita pajangkan sederet nama mulai dari nama atis sinetron, olahragawan dan tokoh pahlawan yang telah banyak berjasa bagi bangsa ini, maka artis dan olahragawan kerapkali menjadi tokoh idola mereka yang utama dan para tokoh pahlawan sering sekedar idola pelengkap saja. Sebenarnya tidak salah kalau generasi muda termasuk anak didik kita menjadikan para artis dan olahragawan sebagi idola mereka. Tidak mengapa bila tokoh-tokoh idola mereka baik luar dalam. Maksudnya penampilan luarnya sama baik dengan karakter mereka yang sesungguhnya. Sekarang yang kita pertanyakan adalah masih adakah anak didik yang mengidolakan pahlawan ? Nilai kebudayaan telah bergeser dratis tak ada lagi kidung merdu sang kembali sapi, tak ada lagi cerita sang bunda menjelang tidur ananda, semuanya telah tergantikan oleh perangkat- perangkat elektronik yang harganya semakin terjangkau.

Dari koran dan majalah di Amerika masih ada generasi muda mereka yang mempunyai kontak batin dengan pahlawan yang telah terpisah selama puluhan generasi atau ratusan tahun. Mereka masih kenal baik sehingga dalam pembicaraan harian, mereka pun mengutip kalimat yang pernah diungkapkan oleh pahlawan bangsa mereka. Penyebaran buku-buku biografi adalah salah satu faktor pembentuk tetap adanya hubungan batin antara mereka dengan para pahlawan.
Bagaimana kontak batin antara anak didik kita dengan para pahlawan bangsa? Rata-rata, kecuali sebagian kecil, Cuma sebatas mengenal nama mereka saja. Oh, kalau Sisingamangaraja itu dari tanah Batak, Imam Bonjol dari daerah Minang dan Pangeran Diponegoro dari daerah…! Atau anak didik kita Cuma mengenal tahun-tahunnya saja bahwa Sukarno, Presiden pertama dan Proklamator, lahir tahun sekian dan Ki Hajar Dewantara mendirikan Taman Siswa pada tahun sekian. Dan bisa jadi generasi muda sekarang mengenal para pahlawan hanya sebatas nama, karena nama-nama jalan juga mengabaikan nama-nama pahlawan. Oh, itu jalan Patimura dan ini jalan RA Kartini, Jalan Teuku Umar, Jalan Soekarno Hatta, Jalan Jenderal Soedirman. Tetapi mereka kemungkinan tidak pernah tahu bagaimana Jenderal Soedirman yang dalam keadaan sakit memimpin perang gerilya, atau mereka kurang mengetahui bagaimana muhammad hatta bergelud dengan buku-buku untuk menuntut ilmu demi memperjuankan kemerdekaan baangsa, atau bagaimana Sukarno berlatih pidato dikegelapan malam semasa kecil, dan Raden Ajeng Kartini beserta adik-adiknya berjuang menentang adat yang kolot demi membebaskan kaum wanita dari belenggu kebodohan untuk memperoleh emansipasi dan harga diri.
Pokoknya cukup sederhana pengetahuan anak didik kita tentang para pahlawan, yakni sebatas nama, tahun kejadian dan daerah asal mereka. Mereka memperoleh itu lewat hafalan dan kemudian secara pelan-pelan melupakan apa yang dihafal sebelum sempat dijiwai sampai pada akhirnya para pahlawan itu terlupakan dan terputus dalam kontak batin. Kalau begitu siapakah yang bertanggung jawab dalam masalah ini ? Tentu saja kita semua, para guru – guru, akibat roses belajar mengajar yang salah kaprah. Sebetulnya selain lewat proses belajar mengajar di sekolah anak didikmasih dapat mengenal para pahlawan lewat media massa seperti televisi, majalah, dan koran – koran. Tetapi acara – acara kepahlawanan sering kalah menarik dengan acara hiburan dan film – film. Sehingga anak – anak didik kita dirumah memperhatikannya tidak dengan sepenuh hati dan malah meninggalkan acara tersebut. Begitu pula kerap kali anak didik lebih tertarik dengan membaca gosip para bintang filmdan mengabaikan biografi pahlawan kalau ada. Walau tidak semua anak didik seperti itu.
Agaknya anak didik kita cukup peka juga. Mereka dapat mengatakan bahwa pelajaran yang bertanggung jawab untuk memperkenalkan pahlawan kepada mereka adalah seperti pelajaran Sejarah, Agama, PPKN dan Bahasa Indonesia. Dan tentu pada umumnya seluruh guru-guru juga bertanggung jawab untuk memperkenalkan para pahlawan kepada anak didik sebagai generasi muda.
Suatu hari ketika ditanya, kepada murid tentang metode proses belajar mengajar yang baik dalam rangka mempelajari dan mengenal tokoh-tokoh pahlawan lewat mata pelajaran yang kita sebutkan di atas. Maka murid mengatakan bahwa metode yang terbaik adalah guru mencatatkan ringkasan pelajaran dan kemudian menerangkan pelajaran atau sebaliknya guru menerangkan pelajaran kemudian baru mencatatkan keringkasan yang telah dibuat guru. Karena anak didik telah terlatih menjadi “beo” atau menerima saja apa yang telah disuguhkan guru lewat cara menghafal ibarat sapi agama Hindu” di India yang mengunyah-ngunyah kertas yang berisi tulisan dan kemudian dikeluarkan lewat kotoran tanpa singgah di kepala, telah menyukai metode ini. Pada hal metode ini adalah metode yang salah kaprah karena dapat mematikan kreatifitas berfikir anak didik. Sedangkan orang-orang dari negara maju telah lama meninggalkan metode proses belajar mengajar seperti ini. Namun kita dalam saat-saat menjelang tahun 2008 ini masih ada yang terpaku pada metode ini. Cukup banyak ragam metode salah kaprah ini. Ada guru yang bercerita mengelantur kesana kemari tentang tokoh-tokoh pahlawan di dalam negeri dan di luar negeri, tanpa jelas salah benarnya, kemudian pada akhir pelajaran mencatatkan keringkasan yang telah dibuat oleh bapak atau ibu guru. Ada lagi guru yang setiap kali masuk kelas selalu menyuruh murid-murid untuk meringkaskan isi halaman dari sebuah buku dan dia sendiri duduk dengan enaknya di depan kelas sampai kuap-kuap atau untuk menghilangkan rasa kantuk karena bosan dalam mengajar sengaja pergi ke ruangan majelis guru untuk mengobrol atau bergosip mulai dari masalah umum sampai kepada masalah rumah tangga. Begitu pula bagi guru yang tidak menguasai pelajaran sama sekali amat sudi untuk mendiktekan seluruh isi buku pada hal tidakkah baik kalau murid disuruh saja membeli buku atau memfoto kopi saja. Tetapi ada kalanya guru melarang siswa untuk membeli buku dan kalaupun punya buku tetap harus mencatat sebab akan diambil nilai kerajinan atau catatan bakal diperiksa. Dan masih ada seribu satu metode yang mirip dengan metode yang salah kaprah begini.
Memperkenalkan para tokoh pahlawan lewat proses belajar mengajar adalah sangat ampuh untuk menangkal agar anak didik tidak tercabut dari akar budaya dalam arti mereka tidak melupakan pahlawan bangsa. Tetapi pelaksanaan proses belajar mengajar tidaklah sesederhana metode yang di atas tadi. Idealnya setiap guru, terutama guru, KWN, Agama, Sejarah dan Bahasa Indonesia dari sekolah dasar dan bagi pelajaran yang terkait di tingkat SD, SLTP dan SLTA harus menguasai topik-topik pelajaran yang bukan sekedar hafalan belaka untuk mengajar murid menjadi beo. Malah sangat ideal lagi kalau guru-guru, lebih tepat lagi guru-guru mata pelajaran Sejarah KWN, , juga membaca buku-buku biografi tanpa terlebih dahulu berlindung dibalik alasan. Kita sering mendengar, tidak hanya guru wanita tetapi juga guru yang senantiasa mengungkapkan tidak punya waktu untuk membaca guna untuk menambah ilmu.“Wah saya tidak punya waktu karena sibuk dengan kerja di rumah, sibuk karena anak mengganggu, tak sempat karena rumah jauh, tak sempat membaca karena saya mempunyai jam mengajar sangat banyak, dan lain-lain”. Sering alasan-alasan kuno ini kita dengar dari rekan guru-guru yang mana mereka senantiasa mengungkapkan kesibukan mereka di luar kegiatan mengajar seolah-olah mereka lebih sibuk daripada menteri atau negarawan lain.

Pada hal Menristek, B.J. Habibie yang memiliki segudang jabatan dan pekerjaan atau KH Zainuddin MZ, ulama sejuta umat. Mereka juga mempunyai rumah tangga dan anak-anak, disamping tanggung jawab terhadap pekerjaan yang banyak tetapi tetap mempunyai waktu untuk belajar atau menambah ilmu. Bagi sebagian rekan guru-guru yang selalu berlindung dibalik alasan “sibuk” ternyata untuk nongkrong di warung kopi atau untuk bergosip tanpa mereka sadari mereka telah menghabiskan waktu selama berjam-jam terbuang percuma.

BAB VI
REFLEKSI DIRI
Sebagai pendidik tentu menginginkan perubahan kebudayaan dan pendidikan bisa berjalan seimbang tanpa mengorbankan satu sama lain. Karena memang keduanya tidak bisa dipisahkan satu dengan lainya. Penulis menyadari sepenuhnya tidaklah mudah mengubah tatanan kebudyaan yang sudah terjadi dan berkembang di masyarakat deawasa ini.Ikut ambil bagian terdepan dalam rangka menyelamatkan anak bangsa generasi kedepan terhadap pengaruh budaya luar yang sangat negatif.
Semoga niat baik penulis sebagai mahasiswa dapat tanggapan yang positif dari apa yang telah penulis lakukan. Pada akhirnya sungguh dengan segala kerendahan hati penulis mohon koreksi bila dalam penyelesaian tugas ini jauh dari sempurna.Semoga Ibu berkenan membimbing kami.

JAWABAN KUIS MATA KULIAH FILSAFAT ILMU
PPs 501
OLEH : SUDIONO
NIM : 0805136144
DOSEN PENGAMPU
Prof. Dr. Makrina Tendangan, M.Pd.

Soal :
1. Jelaskan peranan karya tulis ilmiah bagi profesionalitas guru.
2. Buatlah kerangka berfikir berupa solusi dengan memilih permasalahan manajemen pendidikan di Indonesia.
3. Pilihlah bidang ilmu yang menjadi interes bapak/ibu dan kemukakanlah aspek ontologi, epistemologi, aksiologi.
Jawab :
1. Peranan karya tulis ilmiah bagi seorang guru adalah sebagai sarana untuk mengembangkan diri baik sebagai guru atau sebagai pembelajar, dengan menguasai karya tulis ilmiah yang di dalamnya mencakup hasil penalaran, hasil penilitian, atau gabungan olahan penalaran dan penelitian empiris. Kita ketahui bersama persyaratan kajian ilmiah adalah : memiliki masalah yang jelas, memiliki data yang akurat dan mutakhir sebagai bahan analisis, dilakukan secara sistematis dan logis, dan mendapatkan jawaban masalah yang dikaji. Karya tulis ilmiah tidak saja berguna bagi guru untuk mengembangkan dan menggali potensi yang ada pada diri seorang guru, namun lebih jauh sangat berguna bagi perkembangan pendidikan di tanah air. Dengan karya tulis ilmiah seorang guru akan tampak kemampuan profesinalnya sebagai tenaga pendidik, sekaligus juga upaya untuk mengembangkan karir. Melakukan kajian ilmiah, menuliskanya secara ilmiah, serta mampu menyebarluaskan melalui media yang tepat akan meningkatkan kemampuan berpikir maju dan bernalar kritis. Penalaran ilmiah menyadarkan kita kepada proses logika deduktif dan logika induktif. Pada akhirnya seorang guru harus dapat mewariskan buah pikiran yang ilmiah terhadap muridnya dan kepada orang lain yang memerlukanya.
2. Permasalahan manajemen pendidikan di sekolah-sekolah negeri maupun suwasta sudah sepatutnya diselesaiakan dengan baik. Manajemen bisa diperbaiki dengan terlebih dulu memahami pokok masalah yang ada dalam sekolah tersebut. Dengan menguasai teknik-teknik manajemen pendidikan diharapkan persoalan yang ada dapat diselesaikan. Dengan manajemen yang baik dan benar seorang kepala sekolah akan mampu menggerakan sumber daya manusia secara produktif, terarah, dan efisien. Semua tujuan tersebut akan terwujud bila unsur jiwa yang kita gerakan dalam bentuk kesadaran, kecerdasan dan hati sebagai alat pikir untuk bersikap positif bukan sebaliknya. Kerangka, pola pikir, gagasan, dan pengetahuan yang memadahi dibidangnya adalah awal dari suatu keberhasilan. Semua dari apa yang diimpikan kemudian diwujudkan dalam suatu Visi dan Misi yang dibuat secara bersama-sama. Yang akan kami sampaikan disini adalah kerangka pola pikir yang kemudian diimplementasikan dalam bentuk pola kerja. Sebelum memutuskan dalam bentuk kerja, kami mengadakan pertemuan-pertemua awal secara individu maupun kelompok. Dari pertemuan-pertemuan yang dilakukan kami ingin mendapatkan gambaran dari keinginan dan cita-cita, dan tantangan maupun hambatan yang dihadapi baik individu maupun kelompok kelas maupun kelompok bidang studi. Langkah selanjutnya adalah mendiskusikan hasil temuan dari hasil pertemuan-pertemuan tersebut dengan perwakilan kelompok bidang studi dan perwakilan kelompok kelas. Dengan data yang valid kami melangkah ke rancangan solusi dan pembuatan kerangka kerja.
Bentuk aktion :
 Setiap kelompok kelas dan kelompok bidang study mendiskusikan dan merancang program pembelajaran dalam kelas dan pembelajaran luar kelas, sekaligus merancang waktu pelaksanaan, penanggung jawab kegitan serta biaya yang diperlukan, sarana dan prasarana yang diperlukan dalam suatu kegiatan.
 Setiap kelompok kelas dan kelompok bidang study mempresentasikan dalam kelompok besar yang dilaksanakan dalam rapat dinas awal tahun pelajaran (whorkshop awal tahun pelajaran) selama 4 hari. Setiap kelompok mendapat tanggapan dari kelompok lain secara aktif dan proposional.
 Rancangan kegiatan ektra kurikuler meliputi : ektra kurikuler akademik, kesenian, dan olahraga dirancang oleh waka kesiswaan dan humas untuk kegiatan selama 1 tahun. Isi dari rancangan tersebut menyangkut pembiyayaan, pelatih luar, pendamping (guru) waktu pelaksanaan, target yang akan dicapai.
 Tahap berikutnya adalah tahap pelaksanaan dari program yang telah dirancang bersama, dan evaluasi program dalam bentuk refleksi diri yang dilaksanakan setiap tiga bulan sekali. Untuk refleksi diri setiap individu atau kelompok dibeikan kesempatan untuk menyampaikan program yang telah dilaksanakan serta hambatan-hambatanya, dan solusi yang diiginkan.
Halaman berikut kerangka peogram kerja yang merupakan solusi dini pemecahan masalah.

3. Untuk bidang ilmu kami pilih matematika yang ditinjau dari aspek :
a. Ontologi
b. Epistemologi
c.Aksiologi.
 Matematika ditinjau dari aspek ontologi, dimana aspek ontologi telah menggaris bawahi bahwa pandangan ini mengkaji bagaimana mencari inti yang yang cermat dari setiap kenyataan yang ditemukan, membahas apa yang kita ingin ketahui, seberapa jauh kita ingin tahu, menyelidiki sifat dasar dari apa yang nyata secara fundamental. Dari pandangan tersebut maka kami mempunyai pendapat bahwa matematika bertujuan untuk mengurangi ketidakpastian dalam bahasa verbal. Dalam operasionalnya matematika merupakan rangkaian simbul atau lambang yang fungsinya dikembalikan pemaknaan yang diberikan padanya. Matematika berperan sebagai bahasa simbolik yang memungkinkan terwujudnya komunikasi yang cermat dan tepat dan terbebas dari emosi. Matematika juga merupakan alat komunikasi ilmiah dalam ilmu pengetahuan. Dengan matematika kita diajarkan berpikir logis sistematis, matematika adalah lambang kedewasaan logika dan logika adalah masa kecil matematika. Matematika berusaha menggilangkan sifat kabur, majemuk dan emosional dari bahasa verbal.
 Matematika ditinjau dari aspek epistemologi. Matematika mengembangkan bahasa numerik yang memungkinkan kita untuk melakukan pengukuran secara kuantitatif. Dengan konsep-konsep yang kongkrit, kontektual, dan terukur matematika dapat memberikan jawaban secara akurat. Dalam pembelajaran matematika sesorang mengontruksi matematika melalui proses adaptasi dan organisasai. Perkembangan struktur mental seseorang bergantung pada pengetahuan yang diperoleh siswa melalui proses asimilasi dan akomodasi. Penalaran matematika adalah penalaran induktif dan deduktif . Berpikr induktif diartikan sebagai berpikir dari hal-hal khusus menuju umum, berpikir deduktif diartikan sbagai berpikir dari hal khusus menuju umum.
 Matematika ditinjau dari aspek aksiologi. Ditinjau dari aspek aksiologi, matematika seperti ilmu – ilmu yang lain sangat banyak memberikan kontribusi perubahan bagi kehidupan umat manusia di jagat raya nan fana ini. Segala sesuatu ilmu di dunia ini tidak bisa lepas dari pengaruh matematika, contoh seoarang anak yang pergi ke sekolah untuk belajar itu juga tidak bisa terlepas dari ilmu matematika, kalau kita munculkan pertanyaan-pertanyaan : berapa jumlah buku dalam tasmu ? Berapa harga buku bahasa indonesia yang kau miliki ? Berapa orang temanmu yang berangkat bersama kamu ? Berapa km jarak rumahmu ke sekolah ? berapa. . . berapa . . . dan seterusnya pertanyaan-pertanyaan yang dapat untuk menggali metematika. Dari contoh kecil diatas dapat dibanyangkan betapa besar pengaruh logika matematika, aritmatika sosial, aljabar, statistik dan lain sebagainya. Dengan pengetahuan matematika yang memadahi maka perokonomian suatu negara dapat dipridiksi secermat mungkin, negara dapat menciptakan kehidupan sosial yang lebih mantap, berkepribadian dan diakui oleh negara lain. Amerika, Jepang, Rusia, Inggris misalnya adalah contoh negara-negara yang telah bisa memanfaatkan matematika dalam sitem tata negara, pertahanan (menciptakan senjata), infra struktur (bangunan), TIK (teknologi informasi dan komunikasi), kesehatan (kodokteran dan parmasi), pertambangan, pertanian dan banyak lagi yang berkaitan dengan matematika. Namun dari apa yang telah disampaikan diatas tentu harus dihubungkan dengan moral, keindahan, kehidupan sosial, cinta perdamain, sehingga tidak merusak tatanan kehidupan hidup umat manusia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: